Masih Tentang Masa’ku

Aku masih disini dengan segala luka yang masih terasa
Aku masih disini dengan segala harap yang telah hancur berderai, karna janji yang teringkari oleh dusta…
Jika tak pernah bisa menjaga…
Setidaknya jangan pernah menancapkan luka…

Seseorang yang disana mungkin tak pernah tahu, bagaimana aku harus melewati hari-hariku yang penuh luka…
Seringkali memori tentangnya hadir menyapa hariku…
Ingin kutampik segala memori yang hadir, namun ingatan tentangmu lebih kuat dari upayaku…

Selamat berbahagia dengan duniamu…
Karna aku disini, masih berusaha bersahabat dengan luka dan isakku…

Iklan

Sendiri ku!!!

Setiap orang pasti mengalami masa-masa sulit setelah patah hati. Ada yang lebih berat dari kisahku atau mungkin juga kadarnya ada yang lebih rendah dari kisah asmaraku. Awalnya aku merasa hatiku benar-benar hancur, namun… semakin hari semakin kusadari bahwa segala perih yang kurasa akan membawa ketegaran suatu hari nanti. Saat ini, saat aku menulis tulisan ini, bukan karna aku sudah melewati masa sulit itu, bukan pula aku sudah mampu mengobati dan membebat
rasa sakit ku, karna nyatanya aku masih merasakan perih karna rindu yang harus kuhentikan secara paksa. Terkadang masih ada air mata yang bertandang membawa kenang. Semua itu masih sering terjadi padaku, dan aku harus terus melangkah melewati sang kala yang masih penuh luka agar segala yang membawa sakit di dada dapat ku lupa.

Biarlah saat ini luka menjadi teman dalam sepi dan sendiriku, karna aku yakin kelak akan ada bahagia yang mampu membebat hati yang luka. Semoga luka yang pernah ada tak pernah terulang kembali dalam hidupku, agar ketika malam dan kesunyian datang tak akan ada lagi isak air mata yang penuh luka.

MASIH BERUSAHA MEMBEBAT LUKA

Coretan Pagi di Januari 2019

Entah sejak kapan aku menepi dari dunia wordpress dan kini aku kembali, membawa sebungkus kisah pada setiap moment yang terlewati.
Di setiap moment yang ku lewati, ku eja setiap proses dimana waktu membawaku melewati hari-hariku. Kulihat masih ada rindu dan harapan tentangmu. Namun, bolehkah aku merindukanmu, bukankah hal seperti itu membuatku seperti perempuan yang tidak tahu diri.
Ah… begitu rumit kisahku. Mencintai tapi tak memiliki, merindu tapi tak pernah ada temu.
Ketika pagi hadir dan fajar menyapa, aku berharap semoga esok kita masih bisa bersatu kembali dengan penuh bahagia, seperti hal’nya Sang Fajar yang selalu hadir membawa kebahagiaan melalui kehangatan sinarnya.

Masih Merindumu

140119

Pesan Untukmu

Pagi ini untuk mengawali segala aktivitas ku di tanggal 09 Juli 2018, aku ingin menuliskan beberapa hal untukmu. Aku berharap suatu saat ketika kamu membaca tulisan ini, kamu mengerti bagaimana perasaanku setelah kamu mengakhiri hubungan kita.

Kamu harus tahu dan wajib tahu, bahwa sampai detik ini pun aku tidak bisa membencimu apalagi menyimpan dendam padamu. Memang benar kamu sudah membuatku merasa kecewa dengan segala harapan yang kamu berikan kepadaku, tapi ketahuilah bahwa aku tidak membenci ataupun menaruh dendam kepadamu. Aku masih menganggapmu sebagai orang yang pernah disisiku, sebagai orang yang pernah aku cintai dan sayangi dengan tulus, sebagai orang yang pernah kunanti-nantikan kedatanganmu, sebagai orang yang pernah aku harapkan menjadi pendamping ku dan masa depanku. Bahkan aku juga masih menganggap keluargamu seperti keluargaku sendiri terlepas apapun status kita saat ini.

Satu pesan dariku, jangan pernah datang kepadaku untuk memberiku harapan dan masa depan bersamamu jika kamu tak pernah bisa membuktikan dan mewujudkannya. Terima kasih karna telah bersamaku selama ini.

#TPW#

Begitu Mudahnya Kau Ucapkan Pisah

Perempuan mana yang tak sakit dan hancur perasaannya. Jika ketulusan, kesetiaan, pengorbanan, penantian, dan perjuangannya selama tiga tahun lebih telah dicampakkan oleh lelaki yang dicintai.

Semuanya telah berakhir sudah.
Tak terhitung lagi berapa kali kau menancapkan belati di hati ini.
Hingga akhirnya berujung pada rasa yang begitu menyakitkan.

Baru kusadari ternyata selama ini aku telah berjalan sendirian dengan cintaku kepadamu. Hingga rasa lelah setelah tahu bahwa kau tak menginginkanku begitu menyakitkan bagiku.

Benar…
Saat ini kamu sangat sukses membuatku hancur.
Setelah kupersembahkan pikiran dan hatiku untukmu. Ternyata kamu malah seenaknya mencampakkanku.

Sadarkah dirimu?
Bahwa tiga tahun empat bulan. Bukanlah waktu yang begitu singkat. Bagiku itu adalah waktu yang sangat lama. Selama itulah ku mencintai, menyayangimu dengan ketulusan. Selama itulah ku menjaga kesetiaanku untukmu. Selama itulah ku nanti kepastian dirimu. Namun, ternyata pahit dan pilu yang kau berikan untukku.

Kau perlakukan diriku bagaikan layang-layang yang kau tarik ulur sesukamu, dan kau permainkan semaumu. Ingat aku adalah perempuan yang punya hati, bukan suatu mainan yang tak memiliki rasa sakit sehingga bisa kau mainkan semaumu.

HARUSKAH???

Jika angin mendesir membawa kesejukan.
Malam ini hatiku berdesir namun hanya kepiluan yang kurasakan. Ku tak tau kenapa
Aku ingin menangis, hatiku mendadak pilu, air mataku meleleh.
Saat ini aku tidak dalam kondisi baik. Hatiku rasanya kacau, resah, gelisah, dan pilu. Namun aku berusaha untuk tetap bersikap sewajarnya. Berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Sejujurnya aku ingin menangis dan menjerit sekeras mungkin. Namun semua itu tak kuasa kulakukan. Yang bisa kulakukan hanyalah memendam segala pilu karna rindu di dalam hatiku, hingga dadaku terasa sesak oleh pilu yang kurasa.

Kemanakah dirimu, masihkah kau menempatkan cinta dan sayangku di hatimu. Mengapa tak pernah ada kabar darimu?

Tak pernahkah kau merasakan betapa kacaunya aku tanpa kabarmu?

Jauh darimu saja sudah membuatku pilu, apalagi ditambah dengan tiada kabar darimu. Bagaimana aku harus menyikapi keadaan ini?. Di satu sisi aku sangat, sangat dan sangat merindukanmu, namun di sisi lain aku bahkan tak mempunyai keberanian untuk menghubungimu. Aku takut ketika menghubungimu akan mengganggumu. Aku takut ketika aku menghubungimu kamu akan marah padaku. Aku takut ketika aku menghubungimu, sapa dariku hanya membuatmu jengkel.

Aku sungguh ingin tahu, apakah kamu masih mencintai dan menyayangiku?

Aku sungguh ingin tahu apakah kamu masih mengharapkanku menjadi pendamping hidupmu?

Aku sungguh ingin tahu, apakah di hatimu saat ini sudah ada perempuan lain lagi selain diriku?

Dengan tak ada kabar darimu seperti ini, lalu apa yang harus aku lakukan agar segala tanya yang terpendam di hati ini dapat terjawab?

Haruskah aku memberanikan diri untuk menghubungimu?